Posted in Coretan

Protret Barisan Tepi Kota

Jakarta atau pun Surabaya dikenal sbg kota Metropolitan. Aroma modern dan makmur seolah ditiup angin menggelitik hidung dan memberikan pesan pada otak merangkai persepsi. Gedung megah, teknologi layar lebar digital tersuguh di setiap ruas jalan protokol. Ah aroma kenyamanan seolah tepat di depan muka. 

Namun,

Beberapa radius kita melangkah, wajah kota itu berubah, bukan aroma wangi Parfum Paris, musik dan gemerlap dunia modern, semua hilang seolah tertutup kabut dan gelap tanpa sinar tertutup mendung. Aroma tanah, sampah, pupuk kandang, terbang menyeruak dalam area yg juga bagian dari kota tsb, ya… masih di sudut kota metropolitan. Rumah2 jamur ukuran 2*3 menjadi tempat yg mereka rasakan nyaman. Senyum wajah mungil menyeringai, seolah mengatakan “lo tau, gue bisa bertahan dg kondisi seperti ini, lo? belom tentu” atau “aku isih urip rek, koen durung tentu tanggup urip rekoso koyo ngene, aku looohh tetep iso ngguya ngguyu.” Kain tipis kumal penuh noda tetap nyaman mereka rasakan. Sebungkus mie instan dan sawi cukup utk sekeluarga, ahhhh aroma kesederhaan yg tercium di gang kecil itu.
Sesak seketika saat melihat kaca sepion saat mata ini menangkap bayangan diri ini. Lengkap dg baju, tas, dan sepatu kerja. Masihkah saya tdk bersyukur dg semua yg Allah sudah berikan ke saya. Masihkah saya memaklumi diri ini saat mengurangi sabar, padahal tdk seberapa dibanding sabar mereka. Mereka masih tersenyum.
Makin masuk ke area itu, makin tercium dimensi baru, ruang berbeda, persepsi berbeda. 

Dalam balutan keterbatasan, tingkatan ego dan perasaan manusia masih melekat. Dalam kesusahan mereka juga manusia lengkap dg baik buruknya, sama dg di gedung megah sisi lain kota. Ada keangkuhan dg sesama, ada belas kasih, ada empati, ada takut, ada bahagia dan ada sedih. Semua lengkap dg bingkai berbeda.

Tuhan pun mengaduk-aduk perasaan ini, dari empati jd antipati ketika melihat sebatang putih 9 cm mengepulkan asap di tengah pemukiman lusuh dan padat. Ditengah kesusahan mereka. Ohhh demi sebatang kali 3 mereka rela anak mereka makan lauk mie instant saja, padahal sebatang itu bisa utk tambahan telur pelengkap protein mereka. Atau utk sekedar baju murah menggantikan kain lusuh itu jika dikumpulkan beberapa hari. 


Setiap bingkai kehidupan selalu dibuat Nya lengkap, hitam, putih, dan antara keduanya.

(potret dari lensa mata saat mengantar si kecil menyalurkan infaq, Jum’at berbagi sekolahnya)

Advertisements

Author:

Seorang istri dan ibu yang sedang berusaha mengabdikan diri untuk negara, suka membaca, menulis, belajar dan ingin selalu mengalirkan apa yg sudah dipelajari :-)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s